Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Agustus 2009

Panglima Burung

Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat agung, sakti, ksatria, dan berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, bersinggungan dengan alam gaib. Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Ialah panglima perang Dayak, Panglima Burung, yang disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman.
panglima burung lambang burung enggang Panglima Burung
www.flickr.com/photos/beckzaidan/1102006510
Ada banyak sekali versi cerita mengenai sosok ini, terutama setelah namanya mencuat saat kerusuhan Sambas dan Sampit. Ada yang menyebutkan ia telah hidup selama beratus-ratus tahun dan tinggal di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Ada pula kabar tentang Panglima Burung yang berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan tergantung situasi. Juga mengenai sosok Panglima Burung yang merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun dapat rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.
Selain banyaknya versi cerita, di penjuru Kalimantan juga ada banyak orang yang mengaku sebagai Panglima Burung, entah di Tarakan, Sampit, atau pun Pontianak. Namun setiap pengakuan itu hanya diyakini dengan tiga cara yang berbeda; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang ragu-ragu. Belum ada bukti otentik yang memastikan salah satunya adalah benar-benar Panglima Burung yang sejati.
Banyak sekali isu dan cerita yang beredar, namun ada satu versi yang menurut saya sangat pas menggambarkan apa dan siapa itu Penglima Burung. Ia adalah sosok yang menggambarkan orang Dayak secara umum. Panglima Burung adalah perlambang orang Dayak. Baik itu sifatnya, tindak-tanduknya, dan segala sesuatu tentang dirinya.
Lalu bagaimanakah seorang Panglima Burung itu, bagaimana ia bisa melambangkan orang Dayak? Selain sakti dan kebal, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Cukup sulit untuk membujuk orang Dayak pedalaman agar mau difoto, kadang harus menyuguhkan imbalan berupa rokok kretek.
Dan kenyataan di lapangan membuyarkan semua stereotipe terhadap orang Dayak sebagai orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual. Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka. Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang. Riuh rendah tak berubah menjadi ketegangan di ruang yang lingkup--yang oleh orang Dayak Ngaju disebut Danum Kaharingan Belum.
Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun sosok yang diagungkan, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Masyarakat Dayak pedalaman pun tidak pernah peduli dengan nilai nominal uang. Para pendatang bisa dengan mudah berbarter barang seperti kopi, garam, atau rokok dengan mereka.
Panglima Burung diceritakan jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, dan mandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.
Lantas di manakah budaya kekerasan dan keberingasan orang Dayak yang santer dibicarakan dan ditakuti itu? Ada satu perkara Panglima Burung turun gunung, yaitu ketika setelah terus-menerus bersabar dan kesabarannya itu habis. Panglima burung memang sosok yang sangat penyabar, namun jika batas kesabaran sudah melewati batas, perkara akan menjadi lain. Ia akan berubah menjadi seorang pemurka. Ini benar-benar menjadi penggambaran sempurna mengenai orang Dayak yang ramah, pemalu, dan penyabar, namun akan berubah menjadi sangat ganas dan kejam jika sudah kesabarannya sudah habis.
Panglima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual--yang di Kalimankan Barat dinamakan Mangkuk Merah--dilakukan untuk mengumpulkan prajurit Dayak dari saentero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, mengayau--memenggal dan membawa kepala musuh. Inilah yang terjadi di kota Sampit beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota.
Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah--agama manapun--dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya. Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, itu dalam sudut pandang mereka. Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu.
Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya--entah itu balas dendam, ekonomi, kesenjangan sosial, dan lain-lain--tetap saja tidak dapat dibenarkan. Mata dibalas mata hanya akan berujung pada kebutaan bagi semuanya. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut, Panglima Burung bagi saya merupakan sosok perlambang sejati orang Dayak.
sumber : Betang.com

Senin, 24 Agustus 2009

Ritus Perkawinan Adat Dayak Ngaju

Maaf,ini cuma hasil copas dari tetangga..he..he,maklum masih belajaran..

Lama rasanya manusia biasa udah tidak memposting tentang artikel adat Dayak Ngaju, Ok dech sekarang manusia biasa akan bawa kalian ke asal mula ritus perkawinan adat dayak ngaju. Ritus perkawinan Adat Dayak Ngaju bermula dari tradisi lisan yang berakar dari religi warga setempat yakni agama Kaharingan. Diriwayatkan bahwa Raying Hatala (Tuhan Semesta Alam) sebelum menurunkan manusia ke muka bumi ini, diatas sana telah terjadi perkawinan antara Nyai Endas Lisang Tingang dengan Garing Hatungku atas kehendak mereka sendiri.

Setelah mereka menikah dan mempunyai anak yang mereka beri nama dengan Sangumang, maka kemudian mereka dikenal dengan sebutan Indu(Ibu) Sangumang dan Bapa(ayah) Sangumang. Raja Uju Hakanduang berkata bahwa mereka tidak boleh menurunkan keturunan kebumi apabila tidak mendapatkan berkat dari Raying Hatala.

Atas perintah Raying Hatala, Raja Uju Hakanduang menikahkan Nyai Endas dengan Garing Hatungku sambil memegang Batang Garing sebagai simbol perjanjian, dan dengan tangan telunjuk keatas yang menandakan Raying Hatala sebagai saksi dan pengendali hidup manusia. Empat jari merupakan lambang dari kepentingan dunia yang harus dipenuhi dan ini mengandung pengajaran, yaitu:
1. Jari Jempol : Melambangkan manfaat alam semesta sebagai sumber hidup kita.
2. Jari Telunjuk Tengah : Lestarikan alam semesta yang ada agar tidak rusak dan punah.
3. Jari Manis : Menyatu supaya bisa serasi dengan alam lingkungan hidup.
4. Jari Kelingking : Hormatilah kepentingan lingkungan hidup Kita.

setelah Nyai Endas dan Garing Hatungku berikrar, mereka kemudian "disaki" dan "dipalas".

setelah menikah, Nyai Endas tidak mau berkumpul dengan suaminya (ngabele) sebab dia merasa kurang persayaratan kawinnya. Lalu garing Hatungku bertanya apakah yang kurang? Nyai Endas meminta palaku sebagai bukti bahwa dia sudah kawin dan sebagai modal hidup yang dapat diperlihatkan kepada anak cucu. Nyai endas meminta Palaku:
1. Bukit Lampahung Nyahu (tempat sandung).
2. Banama Bulau Pahalendang Tanjung Ajung Rabia Pahalingei Lunuk (tempat peti mayat atau satu kubur).
3. Bukit Tampung Karuhei (tempat kumpulan rejeki dan kekayaan).

Garing Hatungku berkeliling mencari permintaan isterinya. Ketika ia memanjat pohon yang bernama Mantang Kayu Erang dengan maksud ingin menjumpai Raying Hatala untuk mencari kehidupan yang sebenarnya, nampaklah olehnya di alam terbentang peti mati dan ada sandung.

Garing Hatungku segera turun, namun ia terjatuh dan lawung (ikat kepala) nya terlepas. Karena kayu Erang tersebut mengandung air kehidupan (Danum Nyalung Kaharingan) maka lawungnya tadi menjelma menjadi Kuwung Bulau Sangkalemu yaitu binatang buas sejenis tupai bersayap. Karena terkena air kehidupan, tali penyang berubah menjadi ular tadung, lawas lamang pulut menjadi ular depung sedangkan rambatnya menjadi binatang rusa.

Gaing Hatungku berjalan terus dan akhirnya sampai ke tempat lewu (desa) Bukit Tampung Karuhei yakni tempat yang indah yang penuh dengan rejeki dan kekayaan. Tempat inilah sebagai tempat akhir mereka hidup bahagia.

Setelah syarat palaku yang diminta oleh Nyai Endas terpenuhi barulah Nyai Endas mau berkumpul dengan suaminya.

Tata cara perkawinan Nyai Endas dan Garing Hatungku merupakan asal mula ritus perkawinan adat dayak dan ini selalu dilakukan turun temurun oleh masayarakat suku dayak yang masih memegang teguh akan adat istiadat ini. Mudah - mudahan dengan artikel ini mampu membuat pemuda - pemudi kalteng terutama Suku Dayak ngaju sadar akan posisi mereka sekarang.

So....... Lestarikan Budaya Daerah Indonesia. Jangan sampai adat istiadat serta asal usul budaya bangsa anda tidak tahu.